BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner

​Menuntut Adab dari Perut Lapar: Hipokrasi Moral Kaum Berpunya





One news Indonesia--Menuntut adab dari perut yang lapar adalah bentuk kebebalan sosial yang paling nyata. Sopan santun, tata krama, dan kelembutan tutur kata adalah kemewahan yang hanya mampu dibeli oleh mereka yang sudah selesai dengan urusan isi piring. Bagi kalangan berpunya dan berpangkat, adab berfungsi sebagai aksesori kelas sosial sebuah parfum wangi untuk mempercantik citra di ruang-ruang terhormat. Mereka memiliki kemewahan untuk memilih diksi yang santun, menata gestur yang anggun, dan mempraktikkan moralitas tinggi karena hidup tidak sedang mencekik leher mereka dari belakang.


​Namun, realitas bertolak belakang bagi si miskin yang melarat. Di bawah garis kemiskinan, adab sering kali menjadi beban yang terlalu mahal untuk dipikul. Ketika dunia memperlakukan kemiskinan sebagai sebuah kesalahan besar, maka aturan-aturan kesopanan menjadi tidak relevan di hadapan insting bertahan hidup. Bagaimana seseorang bisa memikirkan etiket dan harga diri ketika hari esok bertaruh antara kelaparan atau penggusuran?


​Dalam struktur yang timpang ini, menjadi penjilat terpaksa diadopsi bukan sebagai cacat moral, melainkan sebagai strategi bertahan hidup yang paling pragmatis. Si miskin dipaksa menelan harga diri mereka bulat-bulat, membungkuk sedalam-dalamnya di hadapan para pemilik kuasa dan harta. Mereka harus tertawa pada lelucon garing sang majikan, memuji kebijakan yang menindas mereka, dan mengiyakan setiap keangkuhan demi mengamankan remah-remah roti yang dijatuhkan dari meja orang kaya.


​Adab, dalam wajahnya yang paling sinis, telah bergeser menjadi hak istimewa kaum elit. Kaum borjuis bisa saling bertukar senyum formal dan etiket formalitas, sementara kaum proletar yang terdesak harus rela menjadi bunglon sosial—bermuka dua dan mengambil peran sebagai pemuji demi menyambung nyawa. Menuntut kaum melarat untuk selalu tegak, beradab, dan menjaga martabat tanpa memberi mereka kepastian ekonomi adalah bentuk kekejaman moral yang paling hipokrit.


​Hukum jalanan dan kerasnya kemiskinan telah mengajarkan mereka satu hal: di hadapan kekuasaan yang absolut, ketertundukan dan penjilatan adalah perisai pelindung, bukan sebuah pilihan hidup. Sebelum menuding si miskin tidak tahu adat atau kehilangan martabatnya, lihatlah terlebih dahulu bagaimana sistem telah merampas ruang mereka untuk menjadi manusia yang merdeka.


(Pena Keumatan)

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.onenewsindonesia.top, Terima kasih telah berkunjung, selamat membaca, tertanda Pemimpin Redaksi: Fitrya Sari