BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner

Menyembelih Ego, Merawat Empati: Refleksi Idul Adha 1447 H

 


Hari Raya Idul Adha 1447 H yang jatuh di tahun 2026 ini bukan sekadar rutinitas tahunan tentang menyembelih hewan qurban. Di tengah dinamika zaman yang bergerak serba cepat, instan, dan individualis, ibadah qurban hadir sebagai "rem darurat" spiritual yang memaksa kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan menata ulang prioritas hidup.

​Ada pesan mendalam yang melintasi zaman dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Berikut adalah beberapa pelajaran dan hikmah berharga yang bisa kita bawa pulang dari madrasah Idul Adha tahun ini:

​1. Radikal dalam Ketaatan

​Pelajaran terbesar dari Idul Adha adalah tingkat kepasrahan Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS. Bayangkan, sebuah perintah yang secara logika manusia sangat berat mengorbankan anak kandung yang dinanti puluhan tahun.

​Hikmahnya qurban mengajarkan kita untuk menundukkan logika dan ego di bawah ketetapan Allah SWT. Di era modern di mana kita sering mempertanyakan "kenapa saya harus begini?" atau "kenapa aturan agama begitu?", kisah ini mengingatkan bahwa puncak tertinggi dari iman adalah mendengar dan taat (Sami'na wa Atha'na).

​2. Menyembelih "Sifat Kehewanan" dalam Diri

​Secara simbolis, kita menyembelih sapi, kambing, atau domba. Namun secara esensial, yang harus disembelih adalah sifat-sifat kehewanan yang ada di dalam dada kita, diantaranya ​sifat rakus dan tamak (merasa selalu kurang), ​sifat egois (hanya peduli pada perut sendiri), ​sifat merasa paling kuat dan menindas yang lemah.

​Hewan qurban yang rebah dan disembelih adalah pengingat bahwa ego dan nafsu kita pun harus ditundukkan agar tidak menguasai akal sehat dan hati nurani.

​3. Kepekaan Sosial dan Meruntuhkan Sekat Kelas

​Di hari biasa, mungkin ada jurang pemisah yang jelas antara si kaya dan si miskin. Namun pada hari raya qurban, sekat itu runtuh. Semua orang menikmati hidangan yang sama, memakan daging yang sama.

​Ibadah ini melatih empathy muscle (otot empati) kita. Qurban mengajarkan bahwa harta yang kita miliki punya fungsi sosial. Kebahagiaan sejati bukan saat kita menimbun harta, melainkan saat kita bisa melihat kepulan asap dapur tetangga yang jarang makan daging, akhirnya bisa tersenyum di hari itu.

​4. Cinta Itu Butuh Pengorbanan

​Kita sering bilang cinta kepada Allah, tapi apakah kita siap berkorban untuk-Nya? Qurban adalah bukti nyata. Menyisihkan sebagian penghasilan yang telah kita cari dengan susah payah untuk membeli hewan qurban adalah bentuk pembuktian cinta tersebut.

​Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Baik itu dalam konteks membangun keluarga, karier, maupun dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

​Setiap dari kita memiliki "Ismail" dalam hidup kita sesuatu yang sangat kita cintai, kita banggakan, dan terkadang membuat kita lalai dari Allah. Ibadah qurban di tahun 1447 H ini menantang kita dengan satu pertanyaan reflektif.

​"Apakah itu harta, jabatan, gelar, atau ego? Sudahkah kita siap melepaskan keterikatan hati pada dunia demi meraih ridhoNya?"

​Semoga tetesan darah hewan qurban yang mengalir di tahun 2026 ini tidak hanya menjadi penanda gugurnya kewajiban, tetapi juga menjadi pencuci noda-noda di hati kita, serta perekat tali persaudaraan antar sesama manusia. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.

(Pena Keumatan)

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.onenewsindonesia.top, Terima kasih telah berkunjung, selamat membaca, tertanda Pemimpin Redaksi: Fitrya Sari